Takut Nikmatnya Makan di Mas Yanto Lamongan

TAPISBERSERI.COM- Semua warga di Provinsi Lampung yang hobi kuliner, hampir dipastikan tahu dan pernah makan di Rumah Makan Mas Yanto Lamongan. Siapa yang tak kenal dengan rumah makan yang paling lezat, murah dan sering membuat ketagihan itu?

Terutama ayam kampung goreng, capcay dan sambal terasinya yang luar biasa lezat. Pedas dan manisnya pas di lidah kebanyakan orang. Akan tetapi, kenikmatan makan di Mas Yanto Lamongan itu, ternyata membuat takut Supri (42). Bahkan dirinya bersumpah, tak akan pernah makan di Mas Yanto Lamongan lagi.

Pasalnya, jelas dia pada tapisberseri.com, ketika pasca lebaran 2014, rombongan rekan kerjanya yang kebetulan ada kerjaan di dekat Mas Yanto Lamongan, di jalan Ki Maja, Bandar Lampung itu. Memang tidak banyak rumah makan yang sudah buka sebab masih nuansa lebaran. Bersama Supri, dua rekannya, Andi dan Robert menikmatinya bahwa selain pecel lele Mbok Gendut yang ada di Jalan Antasari, rumah makan Mas Yanto Lamongan inilah yang menurut ketiga pekerja kontraktor spesialis bangunan itu paling lezat dan pas dilidahnya.

Supri berkisah. Sehabis makan mereka membayar di kasir. Habis Rp.420 ribu. Supri mengeluarkan uang pecahan seratus ribuan lima lembar. Kasir mengembalikan Rp.80 ribu. Supri lupa apa saja yang sudah dimakan bersama dua rekannya. Yang jelas ketika itu mereka makan besar. Ayam kampungnya saja ada dua jenis. Digoreng dan dibakar. Supri yang terbiasa tak melihat uang kembalian. Lembaran uang kertas yang diberikan kasir itu langsung dikantonginya di celana levis.

Ketiganya yang bermalam di lokasi proyek itu seketika kaget. Terutama Supri. Sebab, uang kembalian dari Mas Yanto Lamongan itu ada lima ratus ribu. Hanya beda pecahan lima puluh ribuan dua, seratus ribuan empat.

“Uang itu jelas membuat saya tidak enak, ini pasti kasirnya salah memberi susuk,” kata Supri mengisahkan.

“Lihat nih, bulukuduk saya berdiri kalau mengingatnya,” tambah dia.

Supri lalu bercerita, seiring sibuknya kerjaan dan dikejar tenggat waktu proyeknya mesti selesai, niatnya mengembalikan susuk dari kasir Mas Yanto Lamongan tertunda sampai lima hari.

Namun demikian, ketika mengembalikan susuk itu, dirinya tidak berniat makan, hanya kebetulan lewat. “Saya ingat bener waktu itu, 10 Agustus 2014 malam ketika makan, dan saya sore hari menjelang maghrib tanggal 15 Agustus 2014,” kata dia sembari terus mengulang-ulang kalau bulu kuduknya berdiri.

Singkat cerita, Supri marah-marahlah sama kasir Mas Yanto Lamongan. Soalnya, kasir bersikeras menolak uang kembalian yang dirasa Supri kelebihan. Sampailah jawaban kasir yang mengejutkan. Dan diamini semua karyawan yang kebetulan mengelilingi Supri yang sedang marah-marah. “Pak, kami ini buka tanggal 11 Agustus. Ini karyawan aja baru pada datang kemarin. Tanggal 10 Agustus itu kami belum buka.”

Jleb, jawaban kasir itu seketika membuat Supri melongo. Jadi yang dimakan dan yang melayani mereka makan pada malam 10 Agustus itu siapa? Supri dan dua rekannya seketika berkumpul. Kembali ke Mas Yanto Lamongan. Sayang, ketiganya tak ada yang ingat wajah pelayan serta pembeli yang ramai ketika itu. Semua karyawan yang ada dilihatnya, dan tidak ada yang wajahnya mirip seperti ketika mereka makan sebelumnya.

“Seingat saya, memang semua karyawannya menunduk seperti menyembunyikan wajah. Sejak itu saya bersumpah tidak akan makan di Mas Yanto Lamongan lagi. Hi..takut,” kata dia.

Apakah cerita Supri benar atau tidak? Entahlah. Yang jelas, tapisberseri.com masih penasaran dan mohon jika ada pembaca yang pernah mengalaminya atau membantah cerita Supri, bisa menghubungi redaksi lewat sureal redaksi@tapisberseri.com. (ril/bus)

48 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *