Heboh Keturunan Pakualaman 1 di Lampung

TAPISBERSERI.COM- Beberapa hari ini, masyarakat Lampung dihebohkan pengakuan Sutarno. Putra almarhumah Sutijah yang mengaku sebagai keturunan Pakualaman 1. Pria berusian 40 tahun itu banyak dianggap juga sekadar cari sensasi. Namun demikian, duda yang tinggal di Dusun Srikaton, Desa Merakbatin, Natar, Lampung Selatan ini bersikukuh sebagai keturunan keraton.

Bahkan Sutarno yang menunjukkan surat keterangan bahwa dirinya masih berdarah Pakualaman 1 itu disebut-sebut tetangganya sebagai orang stres. Pasalnya, hanya bermodal surat yang belum diteliti kebenarannya, sudah membuat heboh masyarakat. Terutama klaim sebagai keturunan raja jawa Pakualaman 1, namun sejak kecil tinggal di Natar, Lampung Selatan.

Pertama yang dianggap menyebakan berita hoax ini adalah Tribunnews

Kunjungan wartawan Tribun Lampung ini, berdasarkan beredarnya rilis dari nomor Whatshaap yang tidak bisa dikonfirmasi, tidak aktif dan tak mau menyebut nama. Berikut isi pesan siar itu.

SOERAT ASAL-OESOEL DARI

Raden (Roro) Soetijah dilahirken di Desa Djogojoedan, Wates Adikarta, pada hari seloso kliwon tanggal 19 bakdomoeloed bhe 1860 atau tanggal 24 september 1929.

1. Nama, gelar dan jabatan atau pekerjaan bapaknja ; Raden mas Djojoredjo.
2. Nama dan gelar iboenja ; Mas Adjeng Djojoredjo.
3. Nama,gelar dan djabatan atau pekerdjaan kakenja (toeroenan dari bapa) : mas djajeng hardjo,mantri politie di pengasih jogjakarta, soedah meninggal dunia.
4. Nama dan gelar neneknja (toeroenan dari bapa) : raden ajoe Djajeng hardjo,soedah meninggal dunia.
5. Nama, gelar dan djabatan atau pakerdjaan kakeknja (toeroenan dari iboe) : imanredjo.
6. Nama dan gelar neneknja (toeroenan dari iboe) : mbok imanredjo.
7. Bersanak koela warga (lahiran) dan bersanak kawinan tentang Radja-radja jang waktoe ini misih ada koewasanja. Boepati jang misih pegang djabatan atau pembesar bangsawan; Raden Ajoe Djajeng hardjo poetranja Raden Ajoe wirjoredjo, Raden ajoe wirjoredjo poetranja Kangdjeng pangeran ario soerjo miseno, kangdjeng pangeran ario soerjomiseno poetranja Sri paduka kangdjeng gusti pangeran adipati pake-Alam kasatoe. Mendjadi Raden (Roro) Soetijah masih tersangkoet familie grand V (wareng) dari Sri padoeka pembesar trah kadipaten pakoe-Alaman I jogjakarta dan joega poenya hak pakei titel Raden (Roro).

JOGJAKARTA, 28 November 1932.
Soedah menotjoggi dan betoel Raden (Roro) Soetijah ada hak pakei titel Raden (Roro).

REGENT PATIH Pakoe-Alam.

Dilanjutkan dengan pesan berikutnya di bawah ini:

Pakualam 1 Banyak Melahirkan Darah Pejuang.

Menurut Sutarno trah Pakualam 1 keturunannya banyak melahirkan darah pejuang seperti RA. Kartini dan KH. Dewantara merupakan keturunan trah Pakualam ke 1.

Bahkan menjadi korban penjajah dibunuh secara kejam oleh penjajah. Menurut cerita ibunya ketika masih hidup Alm. Roro Soetijah yang telah meninggal dunia pada tahun 2000 dimakamkan di pemakaman Merak Batin Natar.

Saat itu ibunya lari dari istana Pakualaman karena trauma.

Dihadapannya, kakak kandung ibunya saat itu kepalanya ditembak oleh penjajah, sehingga ibunya trauma dan meninggalkan istana Pakualam.

” Ibu saya trauma karena saudara nya di tembak kepalanya di hadapan dirinya, sehingga ia kabur meninggalkan istana Pakualam,” ujar Sutarno.

Saat ini yang menjadi bukti menerangkan Roro Soetijah adalah keturunan Paku Alam 1 adalah selembar surat dan stempel dari Regent Patih Pakoe Alam pada tanggal 28 November 1932 yang menerangkan silsilah Roro Soetijah dan menerangkan berhak atas gelar Roro.

Ada cerita menarik dan lucu saat Sutarno tahun 2015 lalu dirinya berziarah ke makam raja raja di Imogiri, Jogjajarta.

Dirinya sempat di cueki oleh para abdi dalem yang menunggu di pemakaman tersebut. Karena saat itu dia hanya bersandal jepit dan membawa tas di punggung.

Karena biasanya yang berziarah kesana para bangsawan dan berpenampilan keren. ” Awalnya saya seperti di cueki ketika mengutarakan niat hendak berziarah ke makam keturunannya. Namun saat saya tunjukan selembar surat silsilah ibu saya kemudian mereka cocok kan dengan silsilah kerajaan dan ternyata memang cocok, seketika itu para abdi yang menjaga pemakaman bersungut sungut dan meminta maaf kepadanya. Bahkan saya di panggil Kanjeng, ujar Sutarno. 

Apakah pembaca percaya? Waktu dan penelitian asal usul serta otentisitas surat yang dipegang Sutarno yang bisa menjawabnya. Namun yang pasti, rilis yang ditebar ke banyak wartawan di Lampung ini menunjukkan Sutarno didampingi wartawan dan atau pengacara yang bisa saja disebut, suka sensasi. (*)

123 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *