Sulitnya jadi Pedagang Kaki Lima di Kota Bandar Lampung

TAPISBERSERI.COM- Pesatnya pembangunan di Kota Bandar Lampung, sengaja diciptakan khusus untuk masyarakat elit. Yaitu warga yang secara ekonomi sudah mapan. Warga yang berusaha dan punya modal, seperti mendapat kemudahan di kota berjuluk tapis berseri ini. Namun berbanding terbalik dengan warga yang kurang beruntung. Meski sudah berusaha maksimal tetapi selalu dicekik dengan kebijakan Pemerintah Kota. Demikian diungkapkan Ansorudin, salah satu pedagang kaki lima di jalur dua, jalan Zainal Abidin Pagaralam, Rabu, 12 April 2017 malam.

“Saya merasa sebagai pedagang ini, kalau orang kecil selalu dipalak pemerintah,” kata dia pada tapisberseri.com.

Bentuk kekecewaan Ansori, yang menjual bandrek itu menceritakan, setiap sore ada petugas dari Pemkot yang menarik salar. “Kalau dari tiketnya sih tertulis Rp.2 ribu, tapi saya dan teman-teman ini diminta bayar Rp.10 ribu,” kata dia.

Selain itu, bentuk pungutan lain yang mesti dibayar dia, sebulan harus setor Rp.400 ribu. Resiko jika tak dibayar, jelas dia, tidak boleh berjualan lagi. “Anehnya, setoran bulanan itu harus diawal,” kata dia yang sempat beberapa hari tidak jualan karena belum ada uang untuk setor.

Uang setoran itu, jelas Bu Parti, penjual nasi uduk yang buka setelah jam 22.00 malam, bervariasi. “Kalau saya kena Rp.300 ribu, saya kan warga sini.”

Uang setoran itu, menurut pedagang yang posisinya berdekatan itu, langsung disetor ke pejabat di Pemkot. “Dari RT sampai lurah juga kayaknya kebagian, tapi gak tahulah, Mbak, kami ini orang kecil, ya nurut saja dibanding tidak boleh jualan, kami makan apa,” keluh Parti.

Ansor, Parti dan banyak lagi warga yang senasib adalah potret warga di Kota Bandar Lampung. Dimana kebijakan kota tapis berseri itu dirasakan sangat timpang. (bus)

183 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *