Permintaan Travel Agent pada Kemenpar

TAPISBERSERI.COM- Sejatinya menarik wisatawan ke Indonesia menjadi tugas semua pihak tanpa terkecuali. Pihak travel agent pun ikut serta dan memberi masukan untuk Pemerintah. Dalam acara launching Astindo (Asosiasi Perusahaan Penjual Tiket Penerbangan) Fair 2018 di Hotel Harris Vertu, Jumat (27/10/2017).

Salah satunya adalah Wakil Ketua Umum Astindo yang berasal dari Wita Tour, Rudiana. Kepada awak media, Rudiana bercerita perihal target jumlah kunjungan wisatawan hingga hambatan yang dihadapi.

Bebas Visa Kunjungan untuk Turis

Pemerintah melalui Kemenpar menargetkan 20 juta kunjungan wisatawan ke Indonesia pada tahun 2019 mendatang. Untuk mengejar target itu, Pemerintah lalu memberikan bebas visa kunjungan (BVK). Merujuk data di situs Direktorat Jenderal Imigrasi Kemenkunham, ada 169 negara yang diberi BVK.

Terkait kebijakan BVK untuk menarik wisatawan sebanyak-banyaknya ke Indonesia, Rudiana memberi masukan agar Pemerintah lebih memperketat soal keamanan agar Indonesia tidak kecolongan.

“Pemerintah produk ambisius, security, border, kita dibebasin tanpa visa. Kita harus lebih securitynya, jangan menargetkan banyak, tapi jangan terlalu loss,” ujar Rudiana.

Rudiana pun menyebut sejumlah nama negara yang diberi BVK, tapi dirasa masih kurang manfaatnya. Contoh seperti negara-negara di Afrika, bahkan China.

“Ada beberapa negara yang saya gak setuju, misalnya China. Mereka paling berani di dunia. Di Bali mereka tidak pakai kita, pakai orang sendiri, toko sendiri, tenaga asing zero. Kita mau turis yang turis, kuantitas atau kualitas? Kita mau kualitas,” ujar Rudiana.

Permasalahan turis yang datang tanpa memakai travel agent atau servis lokal memang jadi masalah. Hal itu pun turut berdampak pada devisa pemasukan negara.

Harga yang tidak bersaing

Di bawah era Jokowi, Kemenpar tengah menggembor-gemborkan 10 Bali Baru untuk wisatawan. Yakni Danau Toba (Sumut), Belitung (Babel), Tanjung Lesung (Banten), Kepulauan Seribu (DKI Jakarta), Candi Borobudur (Jateng), Gunung Bromo (Jatim), Mandalika Lombok (NTB), Pulau Komodo (NTT), Taman Nasional Wakatobi (Sulawesi Tenggara) dan Morotai (Maluku Utara).

Namun harus diakui, mempromosikan destinasi Indonesia di luar Bali memiliki banyak tantangan. Dari segi harga misalnya, ongkos berwisata ke dalam negeri masih dikatakan lebih mahal dari liburan ke luar negeri.

“Yang kita usulkan Beyond Bali. Sekarang 10 destinasi kita dorong untuk Pesona Indonesia. Kita udah kalah di babatin sama NTO (National Tourism Organization) luar. Satu lebih murah ke luar. Itu tantangan. Travel fair ini terlalu banyak, maskapai ngadain sendiri, travel agent di mana?,” ujar Rudiana.

Berkaca dari kondisi di dalam negeri. Rudiana menjelaskan, masih banyak persoalan di dalam yang harus dibenahi. Contohnya seperti biaya penerbangan ke destinasi domestik, toilet bersih dan lainnya.

“Kita terlalu banyak hal yang gak mendukung pariwisata. Aksesibilitas belum banyak, restoran nampung grup belum banyak. Dulu Borobudur, TMII termasuk itu toiletnya bau. Komodo bagus tapi lihat harga orang mundur. Itu kelemahan,” cerita Rudiana.

Pemerintah diminta lebih proaktif

Selain memiliki banyak tantangan di dalam negeri, Rudiana juga meminta Pemerintah agar lebih proaktif dan membantu para travel agent. Di luar negeri misalnya, ada banyak insentif yang diberikan oleh Pemerintah terkait dalam hal pariwisata.

“Pemerintah dorong kasih insentif. Saya ada bawa rombongan ke Iceland sampai Korea. Kita ke sana dikasih free (makanan dan tempat) dari pemerintah, insentif bukan dari tour guide,” ujar Rudiana.

Insentif hingga kemudahan dari pihak Pemerintah tentu sangat dibutuhkan untuk memajukan pariwisata. Masukan pun jadi bahan pembelajaran bagi Pemerintah untuk berbenah diri, bersama membangun pariwisata Indonesia.(*)

25 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *